Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Senin, 06 Mei 2019

Buku Sekolah Membunuhmu Dilaunching, Masyarakat Respon Positif

formacipress.com
Semarang, Formacipress.com - Bertempat di MG Setos Hotel, 4 Mei 2019, buku bertajuk "Sekolah Membunuhmu" karya AT Muslim dan MA Muslim resmi dilaunching. Buku terbitan CV. Pilar Nusantara itu dilaunching bersama dengan perpisahan TK Khilafah Semarang.

"Kolaborasi tak terbatas menghasilkan sebuah karya yang ditujukan untuk kebermanfaatan. Launching buku "Sekolah Membunuhmu" buah pikiran dari AT Winarno (Ary Senpai) dan MA Muslim (Abi Emkom). Buku yang mengupas tentang ruh dari sekolah yang hilang hingga pengembangan pendidikan modern," kata AT Winarno dalam acara tersebut.

Dalam tulisan yang dilaunching hari ini, kata dia, diharapkan munculnya kesadaran untuk pengembangan pendidikan modern dan menyadari bagaimana pelaksanaan pendidikan yang seharusnya.

Buku karya dua pemerhati dan pelaku dunia pendidikan ini mengupas berbagai hal. Para peserta selain mendapatkan buku juga mendapatkan kaos dengan membeli sebesar Rp 150.000. Buku ini mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan, mulai dari profesor, doktor, kepala sekolah dan sebagainya.

Di hari berikutnya yang bertempat di Noormans Hotel Semarang, lada Ahad, 5 Mei 2019, penulis juga melakukan peluncuran buku tahap 2. "Banyak audience yang antusias dalam peluncuran buku ini. Awalnya sih mereka agak takut dengan judul buku yang cenderung "meden-medeni". Namun setelah dibahas bersama, buku ini banyak yang berminat, penasaran hingga ngefans," tutur penulis buku.(adm).

Sabtu, 27 April 2019

Sinopsis Buku Kaidah Bahasa Arab: Menuju Multikomunikasi Society 5.0

formacipress.com

Judul: Kaidah Bahasa Arab (Menuju Multikomunikasi Society 5.0)
ISBN: 978-623-90708-2-3
Cetakan: Pertama, April 2019
Tebal: 21 x 14 cm, viii +  124 Halaman
Penulis: Sumarjoko, S.H.I., M.S.I.
Editor: Hidayatun Ulfa, M.A.
Diterbitkan: CV. Pilar Nusantara
Telepon: (024) 76423442 / 081 225 183 113
Harga: Rp 50.000 (belum termasuk ongkir)

Penulisan buku “Kaidah Bahasa Arab” ini diperuntukkan bagi pemula. Buku ini membantu pembaca menemukan cara penulisan teks Arab. Buku ini  adalah hasil penelitian pustaka pada tahun 2018. Latar belakang penelitian ini, adanya keinginan peneliti untuk menyusun kaidah bahasa Arab yang dapat dikonsumsi para pemula yang tidak berlatar belakang santri.

Selama ini masih sedikit buku Bahasa Arab ditulis dengan Bahasa Indonesia yang menjadikan pembaca khususnya bagi pemula memahaminya dengan mudah. Oleh karena itu, buku ini layak dikonsumsi para pemula dalam mempelajari bahasa Arab. Terutama dalam meningkatkan komunikasi bahasa internasional di era revolusi sosial 5.0 mendatang. Selamat membaca. ()

Jumat, 26 April 2019

Buku Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

formacipress.com

Judul: Konsep dan Aplikasi Literasi Baru di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0
ISBN: 978-602-53992-5-1
Cetakan: Pertama, April 2019
Tebal: 21 x 14 cm, ix + 171  Halaman
Penulis: Farid Ahmadi, M.Kom., Ph.D., dan Hamidulloh Ibda, M.Pd.
Diterbitkan: CV. Pilar Nusantara
Harga: Rp 70.000 (belum termasuk ongkir)
Telepon: 081 225 183 113

Dunia berkembang, melaju, bergerak bak kecepatan cahaya. Super cepat. Secepat kilat tanpa memandang apa pun. Dalam hitungan detik, semua peranti kehidupan bak disulap. Perkembangan dunia teknologi yang membahana saat ini mengharuskan lembaga pendidikan dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi harus lah turut menjawabnya.

Lembaga pendidikan tidak boleh lambat dan terlambat dalam merespon spirit zaman. Harus diingat, setiap masa ada spirit zaman (zeitgeist) berbeda-beda, semua itu harus dijawab sekaligus ditakhlukkan. Mengapa? Karena hanya mereka yang menguasai zeitgeist itulah yang dapat bertahan dan menguasai zamannya. Apakah hanya dosen dan mahasiswa yang dituntut menguasai zaman? Tentu tidak.

Pelajar, guru, dan masyarakat biasa tentu sama-sama wajib turut menjawab tantangan abad 21 ini.  Sebab, tidak bisa jika hanya mengandalkan satu pihak untuk menjawabnya. Jika dipetakan, tantangan abad 21 dulu ditandai dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sekira era 2011-2015. Kemudian, disusul dengan era disrupsi dan Revolusi Industri 4.0, dan sejak awal 2019 kita berada dalam gelombang Society 5.0.

Untuk itu, era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 ini tidak cukup jika dijawab dan ditakhlukkan dengan kemampuan literasi lama (membaca, menulis, berhitung). Kemeristek Dikti di awal 2018 mengajak elemen kampus untuk menguatkan kemampuan literasi baru yang menyasar pada literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Semua akademisi  dituntut tidak sekadar memahami dan menguasai literasi lama seperti membaca, menulis, dan berhitung. Di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, ada tiga literasi baru yang wajib dikuasai.

Di jenjang SD/MI sampai SMA/SMK/MA, literasi baru dapat dimasukkan ke dalam berbagai ranah sub-akademik. Mulai dari aspek kurikulum, kompetensi guru, metode pembelajaran, materi pelajaran, implementasi dalam penulisan dan riset. Sedangkan di perguruan tinggi, literasi baru ini dapat diimplementasikan ke dalam kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib dilakukan semua warga kampus. Buku ini merupakan ijtihad baru di wilayah akademik untuk menawarkan konsep dan aplikasi yang dapat diterapkan semua lembaga pendidikan  baik sekolah dan perguruan tinggi dan juga di dalam keluarga.

Buku ini merupakan buku paling kekinian yang dibutuhkan semua dosen, guru, pelajar dan mahasiswa untuk menjawab tantangan era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.

Kamis, 04 April 2019

LP Ma’arif PWNU Jateng Genjot Kualitas Guru Lewat Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

formacipress.com
Semarang, Formacipress.com – Pada Kamis, (4/4/2019), LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah memulai kegiatan tahap pertama dengan merumuskan desain program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Guru Ma`arif Jawa Tengah.

Kegiatan ini merupakan kemitraan antara LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah dengan Direktorat GTK Kementerian Agama RI.

Hadir dalam dalam kesempatan ini Tim Pengembang PKB Guru Direktorat GTK Kementerian Agama RI Bahris Salim. Adapun narasumber kegiatan ini adalah Manager Technical Assistance for Education Strengthening System (TASS) Abdul Munir, dan Konsultan Teknis TASS Kementerian Agama Ihsan.

Hadir pula Ketua PWNU Jawa Tengah KH. Muzammil, Sekretaris PWNU Jawa Tengah Gus Hudalloh Ridwan Naim dan jajaran pengurus harian LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Jateng KH Muzammil menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan kemitraan LP Ma`arif dan Kementerian Agama serta menyampakan ucapan terima kasih atas fasilitasi yang diberikan oleh tim TASS. “Kegiatan ini sangat penting mengingat bahwa mutu inilah yang dibutuhkan oleh guru-guru kita di Ma`arif,” papar KH Muzammil.

Sementara menurut Konsultan Teknis TASS Kementerian Agama RI Ihsan menyampaikan bahwa ketika kementerian membuka ruang tersistem dan massif maka harus ada standar proses yaitu prencanaan, pelekasanaan, pemantauan dan evaluasi, dan pelaporan. “Oleh karena itu tahapan-tahapan penyusunan perencanaan program harus dilalui dalam beberapa tahap agar sistemnya terbangun sampai siap untuk diimplementasikan,” katanya.

Ketua LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah, R. Andi Irawan mengatakan dalam penyususun perencanaan program ini LP Ma`arif PWNU Jawa Tengah unsur yang terlibat sebagai tim perumus program adalah beberapa Ketua LP Ma`arif cabang, guru/kepala madasarah/sekolah, dosen, widyaiswara dan pengurus PW Ma`arif Jateng. “Komposisi tim perumus ini terdiri atas beberapa unsur yaitu akademisi, dari Balai Diklat, Kepala madrasah dan SMK, Ketua LP Ma`arif dan pengurus Ma`arif Wilayah,” ungkap dia.

Di akhir penjelasan tim TASS, menegaskan bahwa pertemuan ini akan berlangsung dalam beberapa tahap dan berkelanjutan sampai system terbentuk dan LP Ma`arif Jawa Tengah siap melaksanakan piloting dan desiminasi ke guru-guru maarif se Jawa Tengah. (admin/Hamidulloh Ibda).

Sabtu, 02 Maret 2019

Cara Beli Buku Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045

formacipress.com
Judul: Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045
ISBN: 978-602-53154-0-4
Cetakan: I, Januari 2019
Tebal: 21 x 14 cm,  xv + 447  Halaman
Prakata: Sigit Tri Utomo, Hamidulloh Ibda
Penulis: Tim PGMI dan PAI IC STAINU Temanggung
Editor: Hamidulloh Ibda, M. Pd
Diterbitkan: CV. Harian Jateng Network
Harga: Rp. 100.000 (Belum Ongkir)
Telp: 08562674799
Website: www.harianjateng.com / Facebook: Harian Jateng
Fanspage: Harian Jateng Network


Twitter: @Harianjateng

Sinopsis Buku Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045

formacipress.com

Judul: Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045
ISBN: 978-602-53154-0-4
Cetakan: I, Januari 2019
Tebal: 21 x 14 cm,  xv + 447  Halaman
Prakata: Sigit Tri Utomo, Hamidulloh Ibda
Penulis: Tim PGMI dan PAI IC STAINU Temanggung
Editor: Hamidulloh Ibda, M. Pd
Diterbitkan: CV. Harian Jateng Network
Harga: Rp. 100.000 (Belum Ongkir)
Telp: 08562674799
Website: www.harianjateng.com / Facebook: Harian Jateng
Fanspage: Harian Jateng Network
Twitter: @Harianjateng

Dalam buku ini, bukan berisi ramalan, atau mimpin, namun bagi kami ini adalah realitas yang harus kita siapkan sejak dini. Ada beberapa tema dan judul yang bagi kami sangat berat untuk menyusunnya, apalagi hampir semua bahan yang kami kaji belum ada, dan masih sedikti referensinya.

Kita harus ingat sejarah, pada tahun 1964 Bung Karno menyampaikan pidato kenegaraan pada peringatan HUT ke-19 RI bertajuk Tahun Vivere Pericoloso (Tavip). Vivere Pericoloso pada intinya adalah hidup dalam kondisi “nyerempet-nyerempet bahaya”. Jika meminjam pendapatnya Thomas Lickona (1991) tentang 10 indikator kerusakan bangsa, tentu bangsa ini dalam kondisi Vivere Pericoloso.

Jika dianalisis ke dalam terminologi Alquran, maka kita akan menemukan beberapa istilah kerusakan. Mulai dari jahil/jahiliyah yang berarti kasusnya kasus akal, intelektual. Kerusakan kedua berupa fasad, yaitu kerusakan dalam aspek moral.

Ketiga, kerusakan yang sudah kompleks, atau zulumat yang bahasa saya ini adalah “era kegelapan” atau dark age. Kerusakan terakhir berupa qiyamat (kiamat) yang berarti puncak dari kerusakan dalam kehidupan manusia, baik itu kiamat mikro maupun kiamat makro.

Ada beberapa pemikir Islam yang saya kutip. Pertama adalah Ki Hadjar Dewantara, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Dr. Nucholis Madjid (Cak Nur). Pertama, pemikiran Ki Hadjar yang menekankan Sistem Among Pendidikan yang ia temukan saat diasingkan di Belanda kala itu. Sistem Among ini menguatkan pendidikan pada Kodrat Alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Kedua adalah kemerdekaan sebagai syarat menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak hingga dapat hidup mandiri. Ki Hadjar Dewantara menempatkan jiwa merdeka sebagai sifat kodrati sang anak yang harus ditumbuh kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran.

Kedua, pemikiran Gus Dur sebenarnya sangat relevan tiap zaman. Kita ingat, tahun 2011 pernah digelar simposium yang mengkaji pemikiran Gus Dur. Ada sembilan nilai dalam pemikiran Gus Dur. Mulai dari nilai ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kemudian kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Nilai-nilai itu harus hadir dalam perkembangan zaman terutama dalam pendidikan itu sendiri.

Ketiga, Cak Nur sendiri memiliki 10 platform untuk memajukan Indonesia. Pertama, mewujudkan good governance pada semua lapisan pengelolaan negara. Kedua, menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen. Ketiga adalah rekonsiliasi nasional. Keempat adalah merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah.

Kelima adalah mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi, kebebasan sipil, khususnya kebebasan pers-akademik, pembagian tugas-wewenang antara pemerintahan, perwakilan, dan pengadilan.  Keenam, yaitu meningkatkan ketahanan dan keamanan sosial dengan membangun harkat dan martabat personal dan pranata TNI dan Polri dalam bingkai demokrasi. Ketujuh, memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan ke-Bhinneka-an dan ke-Eka-an, serta pembangunan otonomisasi. Kedelapan, meratakan dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Nusantara. Kesembilan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai tujuan bernegara. Kesepuluh, berperan aktif dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.

Tiga tokoh di atas, saya kira sudah bagus ketika dapat diterapkan untuk menuju Indonesia Emas 2045. Indonesia di tahun 2045, dapat kita lukis sejak dini, hari ini, detik ini, sekarang juga. Artinya, apa yang akan kita rasakan, kita dapatkan dan nikmati di 100 tahun Indonesia mendatang sangat ditentukan hari-hari ini, khususnya dalam pembangunan SDM yang berkualitas melalui pendidikannya.

Setiap negara, pasti memiliki problematika sendiri dan eranya sendiri. Mulai era-era yang dianggap kelam, bercahaya/ bersinar, dan lainnya. Saya pribadi, menilai Indonesia selalu berada pada era keemasan, entah dengan kadar berapa karat. Namun Indonesia, bagi saya tetap berada di era atau zaman emas. Jika tidak emas, ya minimal perak atau perunggu, jangan sampai Indonesia hanya para besi atau kegelapan. Dus, siapkan kita menuju Indonesia tahun 2045?

Coprights @ 2017 Blogger Templates