Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Sabtu, 02 Maret 2019

Cara Beli Buku Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045

Formaci Press
Judul: Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045
ISBN: 978-602-53154-0-4
Cetakan: I, Januari 2019
Tebal: 21 x 14 cm,  xv + 447  Halaman
Prakata: Sigit Tri Utomo, Hamidulloh Ibda
Penulis: Tim PGMI dan PAI IC STAINU Temanggung
Editor: Hamidulloh Ibda, M. Pd
Diterbitkan: CV. Harian Jateng Network
Harga: Rp. 100.000 (Belum Ongkir)
Telp: 08562674799
Website: www.harianjateng.com / Facebook: Harian Jateng
Fanspage: Harian Jateng Network


Twitter: @Harianjateng

Sinopsis Buku Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045

Formaci Press

Judul: Cetak Biru Pendidikan Indonesia Tahun 2045
ISBN: 978-602-53154-0-4
Cetakan: I, Januari 2019
Tebal: 21 x 14 cm,  xv + 447  Halaman
Prakata: Sigit Tri Utomo, Hamidulloh Ibda
Penulis: Tim PGMI dan PAI IC STAINU Temanggung
Editor: Hamidulloh Ibda, M. Pd
Diterbitkan: CV. Harian Jateng Network
Harga: Rp. 100.000 (Belum Ongkir)
Telp: 08562674799
Website: www.harianjateng.com / Facebook: Harian Jateng
Fanspage: Harian Jateng Network
Twitter: @Harianjateng

Dalam buku ini, bukan berisi ramalan, atau mimpin, namun bagi kami ini adalah realitas yang harus kita siapkan sejak dini. Ada beberapa tema dan judul yang bagi kami sangat berat untuk menyusunnya, apalagi hampir semua bahan yang kami kaji belum ada, dan masih sedikti referensinya.

Kita harus ingat sejarah, pada tahun 1964 Bung Karno menyampaikan pidato kenegaraan pada peringatan HUT ke-19 RI bertajuk Tahun Vivere Pericoloso (Tavip). Vivere Pericoloso pada intinya adalah hidup dalam kondisi “nyerempet-nyerempet bahaya”. Jika meminjam pendapatnya Thomas Lickona (1991) tentang 10 indikator kerusakan bangsa, tentu bangsa ini dalam kondisi Vivere Pericoloso.

Jika dianalisis ke dalam terminologi Alquran, maka kita akan menemukan beberapa istilah kerusakan. Mulai dari jahil/jahiliyah yang berarti kasusnya kasus akal, intelektual. Kerusakan kedua berupa fasad, yaitu kerusakan dalam aspek moral.

Ketiga, kerusakan yang sudah kompleks, atau zulumat yang bahasa saya ini adalah “era kegelapan” atau dark age. Kerusakan terakhir berupa qiyamat (kiamat) yang berarti puncak dari kerusakan dalam kehidupan manusia, baik itu kiamat mikro maupun kiamat makro.

Ada beberapa pemikir Islam yang saya kutip. Pertama adalah Ki Hadjar Dewantara, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Dr. Nucholis Madjid (Cak Nur). Pertama, pemikiran Ki Hadjar yang menekankan Sistem Among Pendidikan yang ia temukan saat diasingkan di Belanda kala itu. Sistem Among ini menguatkan pendidikan pada Kodrat Alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Kedua adalah kemerdekaan sebagai syarat menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak hingga dapat hidup mandiri. Ki Hadjar Dewantara menempatkan jiwa merdeka sebagai sifat kodrati sang anak yang harus ditumbuh kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran.

Kedua, pemikiran Gus Dur sebenarnya sangat relevan tiap zaman. Kita ingat, tahun 2011 pernah digelar simposium yang mengkaji pemikiran Gus Dur. Ada sembilan nilai dalam pemikiran Gus Dur. Mulai dari nilai ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kemudian kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, dan kearifan lokal. Nilai-nilai itu harus hadir dalam perkembangan zaman terutama dalam pendidikan itu sendiri.

Ketiga, Cak Nur sendiri memiliki 10 platform untuk memajukan Indonesia. Pertama, mewujudkan good governance pada semua lapisan pengelolaan negara. Kedua, menegakkan supremasi hukum dengan konsisten dan konsekuen. Ketiga adalah rekonsiliasi nasional. Keempat adalah merintis reformasi ekonomi dengan mengutamakan pengembangan kegiatan produktif dari bawah.

Kelima adalah mengembangkan dan memperkuat pranata-pranata demokrasi, kebebasan sipil, khususnya kebebasan pers-akademik, pembagian tugas-wewenang antara pemerintahan, perwakilan, dan pengadilan.  Keenam, yaitu meningkatkan ketahanan dan keamanan sosial dengan membangun harkat dan martabat personal dan pranata TNI dan Polri dalam bingkai demokrasi. Ketujuh, memelihara keutuhan wilayah negara melalui pendekatan budaya, peneguhan ke-Bhinneka-an dan ke-Eka-an, serta pembangunan otonomisasi. Kedelapan, meratakan dan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Nusantara. Kesembilan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat sebagai tujuan bernegara. Kesepuluh, berperan aktif dalam usaha bersama menciptakan perdamaian dunia.

Tiga tokoh di atas, saya kira sudah bagus ketika dapat diterapkan untuk menuju Indonesia Emas 2045. Indonesia di tahun 2045, dapat kita lukis sejak dini, hari ini, detik ini, sekarang juga. Artinya, apa yang akan kita rasakan, kita dapatkan dan nikmati di 100 tahun Indonesia mendatang sangat ditentukan hari-hari ini, khususnya dalam pembangunan SDM yang berkualitas melalui pendidikannya.

Setiap negara, pasti memiliki problematika sendiri dan eranya sendiri. Mulai era-era yang dianggap kelam, bercahaya/ bersinar, dan lainnya. Saya pribadi, menilai Indonesia selalu berada pada era keemasan, entah dengan kadar berapa karat. Namun Indonesia, bagi saya tetap berada di era atau zaman emas. Jika tidak emas, ya minimal perak atau perunggu, jangan sampai Indonesia hanya para besi atau kegelapan. Dus, siapkan kita menuju Indonesia tahun 2045?

Inovasi Belajar Abad 21 (Kumpulan Karya Terbaik Finalis Lomba INOBEL Tingkat Nasional Tahun 2017)

Formaci Press

Judul: Inovasi Belajar Abad 21 (Kumpulan Karya Terbaik Finalis Lomba INOBEL Tingkat Nasional Tahun 2017)
ISBN: 978-602-51368-9-4
Cetakan: I, 2018
Tebal: 21 x 14 cm,  ix  + 190  Halaman
Penulis: Rajab Effendi, dkk.
Penyunting: Dian Marta Wijayanti, S.Pd
Desain Sampul: Edy Erlambang
Diterbitkan: CV. Pilar Nusantara
Harga: Rp.75.000 (Belum Ongkir)
HP: 081225183113

Zaman yang berubah cepat, mengharuskan inovasi belajar juga harus berubah mengikutinya. Sebab, hanya orang yang bisa menangkan zeitgeist (spirit zaman) yang bisa menyesuaikan bahkan menguasai zamannya. Guru-guru di negeri ini harus bisa menangkap sinyal itu disaat zaman yang berubah makin cepat ini.

Jika dulu literasi hanya berkutat pada membaca, menulis, dan berhitung, namun di era Revolusi Industri 4.0 ini, semua serba terdisruspi. Guru harus bisa menjawabnya dengan kemampuan “literasi baru” dengan aspek literasi data, literasi teknologi, dan literasi humanisme/Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu penguatan dari ketiga jenis literasi ini tentu pada inovasi belajar yang dikembangkan guru-guru bernas dan revolusioner.

Buku ini merupakan kumpulan karya terbaik inobel tingkat nasional pada tahun 2017 yang sudah dirangkai apik sesuai kebutuhan zaman. Anda bisa menyantapnya sesuai dengan kebutuhan yang bisa menjadi sumbangsih literasi baru untuk kemajuan pendidikan di negeri ini.

Akhirnya, buku ini spesial untuk semua guru-guru di Indonesia agar terus memperbaiki pendidikan dengan kapasitasnya masing-masing. Selamat membaca!

Cara Beli Buku Mendeteksi Guru Bergairah di Era Milenial

Formaci Press

Judul: Mendeteksi Guru Bergairah di Era Milenial (Konsep dan Acuan dalam Meningkatkan Gairah Mengajar)
Penulis: Rudi Hartono, M.Pd.I.
Editor: Hamidulloh Ibda, M. Pd.
Desain Sampul: Wahyu Egi Widayat
ISBN: 978-602-53552-9-5
Cetakan: I, Januari 2019
Tebal: 21 x 14 cm,  x + 362  Halaman
Diterbitkan: CV. Pilar Nusantara
Harga: Rp. 100.000 (Belum Ongkir)
HP: 081225183113

Mendeteksi Guru Bergairah di Era Milenial (Konsep dan Acuan dalam Meningkatkan Gairah Mengajar)

Formaci Press

Judul: Mendeteksi Guru Bergairah di Era Milenial (Konsep dan Acuan dalam Meningkatkan Gairah Mengajar)
Penulis: Rudi Hartono, M.Pd.I.
Editor: Hamidulloh Ibda, M. Pd.
Desain Sampul: Wahyu Egi Widayat
ISBN: 978-602-53552-9-5
Cetakan: I, Januari 2019
Tebal: 21 x 14 cm,  x + 362  Halaman
Diterbitkan: CV. Pilar Nusantara
Harga: Rp. 100.000 (Belum Ongkir)
HP: 081225183113

Gairah mengajar bagi seorang guru adalah faktor yang sangat penting dan menentukan dalam pendidikan. Salah satu hal yang dilakukan dalam pendidikan adalah proses mentransfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Namun, proses tersebut kerap kali tidak begitu mudah dijalankan sebab ada beberapa faktor yang memengaruhinya.

Dalam hal itu, guru dituntut untuk menjalankan proses tersebut dengan gairah tinggi agar didapatkan hasil yang maksimal. Tidak akan begitu berarti bila guru mempunyai pengetahuan yang banyak, tetapi tidak memiliki gairah mentransfer pengetahuannya kepada peserta didik yang diajarnya.

Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi seorang guru untuk memiliki gairah tinggi dalam mengajar. Gairah tersebut sendiri bukanlah sesuatu yang langsung jadi, tidak ada satupun guru yang langsung bergairah dalam mengajar. Gairah tersebut merupakan proses yang berjalan seiring dengan waktu. Guru yang sudah lama mengajar tentunya diharapkan lebih bergairah dalam mengajar dibandingkan guru yang baru terlibat dalam pelayanan mengajar, dan jangan sampai hal ini terbalik. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk senantiasa meningkatkan semangat dan gairahnya dalam mengajar dari waktu ke waktu.

Kami menyambut dengan senang hati atas terbitnya buku ini sebab kehadiran buku ini menambah bahan-bahan yang sangat dibutuhkan dalam bidang Pendidikan di era digital dan milenial ini. Materi-materi yang dibahas dalam buku ini sesuai dengan zaman sekarang dan sangat berguna untuk guru yang menekuni bidang pendidikan sehingga wawasan/pemahamannya semakin diperluas. Kami mengapresiasi penulis yang telah bekerja keras menulis buku ini.

Sekalipun banyak kesibukan dalam menjalankan tugas atau pelayanan, ia masih meluangkan waktu untuk menulis buku ini demi peningkatan kualitas pendidikan pada masa kini dan masa akan datang. Kehadiran buku ini juga menunjukkan kepedulian dan dedikasi yang sungguh dari penulis dalam hal semangat mengajar bagi para guru. Kami berharap akan ada buku-buku lain yang ditulis oleh penulis untuk waktu-waktu yang akan datang. Selain itu, kami berharap, penerbitan buku ini juga akan memotivasi guru-guru lain untuk menulis dan menerbitkan buku-buku yang berkualitas dalam disiplin ilmu yang ditekuninya demi peningkatan kualitas pendidikan.

Cara Beli Buku Sejarah dan Legenda Desa di Temanggung, Magelang, dan Semarang

Formaci Press

Judul: Sejarah dan Legenda Desa di Temanggung, Magelang, dan Semarang
ISBN: 978-602-53552-7-1
Cetakan: I, Januari 2019
Tebal: 21 x 14 cm,  xiv + 301  Halaman
Prakata Kaprodi PAI: Luluk Ifadah, S.Pd.I., M.S.I.
Penulis: Nurul Hidayah, dkk
Editor: Hamidulloh Ibda, M.Pd.
Desain Sampul: Wahyu Egi Widayat
Diterbitkan: CV. Pilar Nusantara
Harga: Rp. 75.000 (Belum Ongkir)
HP: 08562674799

Coprights @ 2017 Blogger Templates