Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Sabtu, 13 Mei 2017

Resensi Buku Sekolah Literasi, Perencanaan & Pembinaan

Formaci Press
Judul                   : Sekolah Literasi, Perencanaan & Pembinaan
Pengarang          : Laura Lipton dan Deborah Hubble
Tebal                   : 224 Halaman
Cetakan               : I, Oktober 2016
Penerbit              : Nuansa Cendekia
ISBN                   : 97860233501144
Harga                  : Rp. 60.000,-
Peresensi           : Dian Marta Wijayanti, Direktur Formaci Press

Budaya literasi di Indonesia jika dibandingkan dengan Amerika dan Kanada masih berbeda jauh. Padahal bangsa yang maju ditopang budaya membaca masyarakatnya. Hal itu tentu dimulai dari pendidikan yang harus menerapkan “sekolah literasi” sebagai sebuah gagasan dan model literasi. Tujuannya adalah mencetak generasi pembelajar literasi seumur hidup. Buku ini hadir untuk semua tingkatan pengajaran literasi yang berorientasi sebagai pembelajar, serta dikemas dalam berbagai strategi inovatif dan aktivitas-aktivitas praktis di sekolah (hlm.5).

Guru harus menemukan cara cerdas untuk mengubah minat dan budaya baca di Indonesia yang masih rendah. Melalui buku ini, guru bisa membandingkan budaya baca di Indonesia dan negara-negara maju. Apalagi buku menarik ini berisi gagasan-gagasan yang dihasilkan dari diskusi guru dan para ahli dari Amerika Serikat dan Kanada yang disusun menjadi model pembelajaran di sekolah.

Selain membahas konsep, buku ini juga menawarkan perencanaan dan pembinaan baik berupa metode pembacaan teks, strategi kefasihan dan kiat mentradisikan siswa menjadi pembelajar literasi seumur hidup. Untuk itu, di tiap pokok bahasan didedikasikan untuk melahirkan geliat melakukan hal-hal sederhana untuk dilakukan, hal-hal yang menuntut usaha dan hal-hal yang berkomitmen (hlm.11-12). Komitmen yang dimaksud adalah komitmen melakukan gerakan literasi yang dimulai dari hal-hal kecil.

Pembelajar Literasi
Biasnya kata literasi juga dikaji dalam buku ini. Literasi sendiri dikategorikan secara ilmu dan juga secara praktis atau karya literasi. Dalam buku ini, kata literasi bermakna lebih luas dari sekadar kemampuan elementer membaca, menulis dan berhitung (calistung). Namun buku ini menjelaskan bahwa literasi dalam pengertian modern mencakup kemampuan berbahasa, berhitung, memaknai gambar, melek komputer dan berbagai upaya mendapatkan ilmu pengetahuan (hlm.13).

Secara umum, literasi membaca bisa dilakukan dengan menggunakan model, metode dan teknik membaca. Akan tetapi, buku ini hadir dengan konsep berbeda untuk memudahkan pendidik dan juga siswa. Buku ini memberikan oase pengetahuan bahwa pengajaran literasi bermuara pada orientasi pembelajaran, sebuah filosofi dan bukan sekadar model pengajaran (hlm.12). Puncaknya, pelaksanaan gerakan literasi melahirkan “pembelajar literasi” seumur hidup.

Secara praktis, buku ini dibagi menjadi lima bagian yang menawarkan cara-cara kreatif untuk merangcang lingkungan belajar, memadu interaksi siswa, mengembangkan keterampilan, membina pembelajar seumur hidup (hlm.11). Setiap bab, memiliki ruh untuk menggeliatkan budaya membaca, karena selain praktik juga dilandasi teori dan gagasan.

Gagasan-gagasan praktis dan tidak “bertele-tele” disajikan buku ini. Apalagi, gagasannya tidak hanya didasarkan pada kurikulum seni berbahasa, namun kegiatan dan strateginya disesuaikan agar bisa digunakan di berbagai bidang kajian. Dalam pokok bahasan, fokusnya adalah mendesain menjadi pembelajar literasi (hlm.13). Posisi guru dan siswa dalam konsep pembelajaran literasi, sejajar sebagai pembelajar yang sama-sama menerapkan pola dan metode literasi di dalam kelas.

Salah satu contoh strategi menerapkan literasi membaca di kelas adalah mengajak anak membaca surat kabar, karya seni, administrasi publik dan menonton video. Setelah dibaca dan dilihat, anak-anak diajak guru diskusi agar tercipta satu pemahaman dari objek bacaan (hlm.140).

Dalam praktik literasi, siswa juga diajak berselancar dengan bahasa asing. Siswa perlu merasa nyaman dalam membaca kata-kata asing dan mengintegrasikan gagasan informasi kompleks yang mereka baca (hlm. 126). Kemudian, anak-anak diajak mengupas idiom-idiom Bahasa Inggris. Idiomatik  bahasa asing sangat kompleks maknanya, sehingga sangat penting dibahas untuk mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua bagi anak (hlm.127).

Guru bisa menerapkan gerakan literasi membaca dengan menggunakan tujuh prinsip dan syarat-syarat bahasa sesuai penjelaskan Brian Cambourne (1988). Di antaranya yaitu imersi (keterandaman), demonstrasi, ekspektasi (harapan), tanggungjawab, praktik, perkiraan, dan umpan-balik (17-18).

Melalui konsep di atas, diharapkan guru dan siswa menjadi “pecinta literatur” seumur hidup. Mereka perlu mendapatkan kesempatan diskusi, debat, identifikasi setelah membaca bacaan di dalam kelas (hlm.155). Membaca tidak hanya berhenti setelah buku dan surat kabar ditutup, namun akan kembali menggeliat ketika didiskusikan bersama-sama.

Gagasan sekolah literasi harus digalakkan sejak dini, terutama di bangku Sekolah Dasar (SD). Sebab, keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca dan menulis dipupuk di sana. Sejak beberapa tahun ini, Kemendikbud juga mendorong literasi anak-anak agar bisa menjawab tantangan zaman, termasuk menangkal berita “hoax”. Jika tidak sekarang, kapan literasi membaca digelorakan?


Ingin mendapatkan buku ini? Silakan hubungi 085740145329.

Formaci Press / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Coprights @ 2017 Blogger Templates