Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Jumat, 05 Januari 2018

Sinopsis Buku Guru Zaman Now (Guruku, Sahabatku)

Formaci Press
Judul: Guru Zaman Now (Guruku, Sahabatku)
Penulis: Dian Marta Wijayanti
Penerbit: Formaci
ISBN: 978-602-50566-2-8
Cetakan: I, November 2017
Tebal: Tebal: xi + 160 Halaman
Harga: Rp 40.000 (belum termasuk ongkir)
CP: (024) 76423442 / WA: 085740145329

Buku ini hadir karena adanya keinginan, kebutuhan, dan juga tuntutan. Ada keinginan yang sangat besar dalam diri penulis untuk bisa menyampaikan gagasan tentang hakikat “Guru Zaman Now” yang sedang viral di masyarakat.

Penulis tidak memiliki ruang yang cukup luas dan jabatan yang urgen untuk menyampaikan suatu ilmu sebagai seorang expert. Namun hal ini tidak menjadi hambatan bagi penulis untuk terus menulis dan menulis.

Meskipun penulis hanya seorang PNS guru SD yang sampai hari ini pun belum memiliki gelar magister (dalam proses), tapi penulis memiliki keinginan kuat. Keinginan ini diawali dari fenomena nyata yang ada di sekeliling penulis.

Banyak rekan guru yang terhambat karirnya karena penulisan karya ilmiah dan publikasi ilmiah. Tapi penulis yakin dalam diri mereka ada keinginan besar untuk bisa berkarya. Hanya saja, mereka kekurangan subyek sebagai narasumber, kekurangan ruang untuk belajar, dan kekurangan waktu untuk mendalami kegiatan tulis-menulis. Padahal untuk menjadi “Guru Zaman Now” keterampilan menulis sangat lah diperlukan.

Banyaknya artikel yang mencoba menyudutkan profesi guru atas fenomena “Kids Jaman Now” menjadi alasan utama sama untuk mengkajinya dalam sebuah buku. Masyarakat menilai guru saat ini tidak mampu mengusai siswa. Guru dianggap “gagal” dengan bermunculannya berbagai kenakalan remaja di masyarakat. Mereka menganggap guru-guru zaman dahulu lebih pandai mendidik dan mengajar siswa.

Mindset tersebut tentu perlu diluruskan. Jangan sampai profesi guru kehilangan wibawa dan dipandang sebelah mata. Apalagi guru dijadikan sasaran atas ketidaksuksesan output pendidikan. Bukankah Tri Pusat Pendidikan terdiri atas keluarga, sekolah, dan masyarakat?  Lantas mengapa hanya sekolah yang harus bertanggung jawab?

Formaci Press / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Coprights @ 2017 Blogger Templates