Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Jumat, 15 September 2017

Pondok Pesantren Paceklik Penulis Sastra

Formaci Press
Suasana  Tadarus Buku dan Training Jurnalistik pada Jumat (15/8/2017) di musala Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak.
Demak, Penerbitformaci.id – Pondok pesantren saat ini dinilai paceklik penulis sastra, baik itu karya sastra lama maupun baru. Bisa puisi, cerpen, novel, gurindam, saloka dan lainnya.

Sastra yang lahir dari kalangan pondok pesantren harus dihidupkan dan digerakkan kembali. Sebab, sejak beberapa tahun ini kaum santri minim yang menggeluti sastra.

Hal itu diungkapkan Hamidulloh Ibda penulis buku “Sing Penting NUlis Terus (Panduan Praktis Menulis Artikel dan Esai di Koran)" dalam Tadarus Buku dan Training Jurnalistik pada Jumat (15/8/2017) di musala Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak.

Kegiatan Tadarus Buku dan Training Jurnalistik itu digelar oleh Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al-anwar (IKASPA) Demak yang bekerjasama dengan penerbit Formaci Semarang yang dihadiri ratusan peserta dari kalangan santri Ponpes Al-anwar.

“Kalau berbicara sastra wilayah cuma dua, yaitu ilmu sastra dan karya sastra. Kalau ilmu sastra, bisa dibaca sendiri di buku-buku sastra dan kalau karya sastra ya minimal dimulai dari kegiatan seperti ini,” beber Hamidulloh Ibda di hadapan ratusan santri Ponpes Al-anwar Suburan, Mranggen, Demak.
Dosen STAINU Temanggung itu menuturkan, bahwa selama ini masih sedikit santri atau kalangan NU yang fokus di sastra dan menggerakkannya di pesantren.

“Selama ini kita paling mengenal D. Zawawi Imron, Mustofa Bisri (Gus Mus), Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan Kang Abik atau Habiburrahman El Shirazy yang juga alumni Pondok sini (Al-anwar),” lanjut dia.

Padahal, kata dia, banyak ide-ide yang bisa dikemas santri menjadi bahasa puisi maupun cerpen. “Masalah kiriman telat, salat jemaah di masjid, problem ngaji, ngapalke, itu semua bisa jadi inspirasi untuk menulis karya sastra,” beber alumnus Ponpes Mamba’ul Huda Kembang, Pati tersebut.

Ia menuturkan, untuk menulis puisi, sebenarnya mudah dan murah. “Teorinya cuma dua, yaitu reseptif dan ekpresif. Reseptif itu input, dan kalau ekspresif itu output. Reseptif itu ya ketika Anda mendapatkan ide, saat marah, galau, gembira, lalu luapkan lewat kata-kata, itu namanya ekspresif,” lanjut alumnus magister Pendidikan Bahasa Indonesia Prodi Pendidikan Dasar Pascasarjana Unnes itu.

Kalau mau hebat lagi, kata dia, coba nanti baca Alquran, kitab Diba’, kitab Jalalain, yang kesemunya kalau diamati bahasanya itu indah. “Anta syamsun, anta badrun, antu nurun fauqa nurin, itu semua kan indah maknanya. Jadi, perkaderan sastra itu justru harus dimulai dari pesantren karena dekat dengan kitab dan kajian-kajian Islam,” beber dia.

Selain itu, semua peserta juga dipraktikkan menulis puisi sederhana yang diawali dengan pembacaan puisi karya Hamidulloh Ibda bertajuk "Membuka Galaksi Cinta" sebagai contoh puisi kepada peserta. (Adm).

Formaci Press / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Coprights @ 2017 Blogger Templates