Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Jumat, 12 Mei 2017

Kartini dan Literasi

Formaci Press
Oleh Hamidulloh Ibda
Direktur Utama Forum Muda Cendekia

Kartini selama ini hanya dikenal sebagai pahlawan nasional. Spiritnya hanya seputar emansipasi, persamaan derajat, pendidikan tinggi serta kepemimpinan kaum hawa. Akan tetapi, masih sedikit yang membahas spirit literasi Kartini. Fakta sejarah Kartini, berbeda dengan kondisi sosial budaya masyarakat Kabupaten Jepara sebagai tanah kelahiran dan Rembang sebagai tempat peristirahatan terakhir Kartini.

Kepedulian Kartini terhadap kemajuan pendidikan hanya dikenal melalui sedikit buku. Sebut saja buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” karya Armijn Pane, “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer dan karya lain berbahasa Belanda yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Kedua buku itu ada aspek paradoks karena mendistorsi peran Kartini dalam membangun peradaban literasi. Sebab, buku yang diilhami dari kumpulan surat-surat Kartini tersebut hanya memberi pesan bahwa Kartini adalah “penulis”, bukan “pembaca”.

Sejarah Kartini adalah “sejarah perlawanan” terhadap tradisi yang memandang sebelah mata kaum hawa. Melalui surat-surat yang ia tulis, Kartini menyuarakan kegelisahannya tentang kondisi perempuan yang kala itu “terbelakang” dari pendidikan, budaya dan politik. Di era global saat ini, perempuan sudah maju di berbagai bidang. Namun, bagaimana kondisi literasi perempuan di era milenial?

Buta Aksara
Sampai 2015, Kemendikbud mencacat 6,2 juta masyarakat Indonesia buta huruf/aksara. Mereka didominasi perempuan dan berada di daerah padat penduduk. Secara global, Keller (2015) mencatat jumlah penduduk dunia yang buta huruf mencapai 774 juta jiwa, di mana 493 juta di antaranya perempuan. Sementara di Indonesia, sebanyak 8,5 juta orang buta huruf, dan 64% dari jumlah itu atau sekitar 5,4 juta jiwa adalah perempuan.

Era digital harusnya membuat perempuan “melek literasi”, terutama kemampuan membaca. Sebab, tidak ada bangsa yang maju tanpa ditopang budaya baca masyarakatnya. Akan tetapi, budaya merumpi dan menonton televisi masih mendominasi kaum hawa. Ditambah lagi budaya bermedia sosial yang berlebihan mendominasi dalam semua aktivitas perempuan.

Budaya membaca sangat penting. Tanpa budaya baca, suatu negara susah berkembang bahkan stagnan dan tertinggal. Jumlah penduduk Indonesia yang didominasi perempuan seharusnya melestarikan tradisi baca. Apalagi, perempuan disiapkan untuk menjadi “sekolah pertama” bagi anak-anaknya. Sebagai guru di keluarga, ibu sangat memiliki peran strategis mencerdaskan anak-anaknya. Apalagi, sebelum menempuh pendidikan sekolah dan masyarakat, anak-anak mendapat ilmu, informasi, siraman moral dari keluarga. Jadi, ibu sangat dilarang “bodoh” dan buta literasi.

Perempuan sebagai induk pengetahuan bagi generasi bangsa seharusnya melek literasi. Apalagi, perempuan menurut Subyantoro (2014) diberi kelebihan “plus-plus” dari Tuhan, terutama aspek bahasa. Dalam kajian linguistik, perempuan memiliki keluwesan dan  keterampilan bahasa yang melimpah dibandingkan laki-laki. Sangat wajar jika perempuan lebih “cerewet” daripada kaum adam. Bahkan, jika tidak cerewet, perempuan tersebut justru dipertanyakan.

Dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa, ibu/perempuan memiliki peran strategis untuk mengantarkan anak-anaknya mendapatkan informasi, ilmu pengetahuan dan data yang benar. Apalagi era banjir informasi seperti ini susah membedakan mana berita benar dan mana yang hoax (palsu) dan fake (palsu).

Meskipun literasi erat kaitannya dengan catur tunggal berbahasa, yaitu menyimak, membaca, menulis dan berbicara, namun membaca menjadi kemampuan utama mengembangkan ketiga aspek lain. Literasi tidak sekadar urusan berbahasa. Namun menurut Deborah (2016) literasi juga aspek melek komputer dan segala usaha mendapatkan pengetahuan. Jadi melek literasi sangat wajib untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dengan benar dan baik.

Literasi Kartini
Kartini dikenal dengan sosok yang rajin membaca. Bahkan, ia saat dipaksa menikah oleh keluarganya, ia justru mengurung diri di dalam kamar dan menghabiskan waktu itu untuk membaca dan menulis surat-surat. Kehidupan literasi Kartini semakin matang ketika ia menulis surat berbahasa Belanda karena ia mengenyam pendidikan Europese Lagere School (ELS).

Kartini juga aktif membaca berbagai literatur buku, koran, dan majalah Eropa yang diberikan kakaknya, Kartono. Sosrokartono atau Kartono juga pintar bahasa asing. Bahkan, ia mampu menguasai hampir 26 bahasa asing dan menjadi jurnalis ternama di zaman itu.

Dari kegiatan sekolah dan membaca itu, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief. Ia juga menerima majalah langganan Leestrommel yang dijadikannya bahan bacaan. Tema majalah itu beragam, mulai kebudayaan, ilmu pengetahuan, termasuk majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kegiatan literasi membaca tersebut membuahkan hasil surat-surat yang kini menjadi inspirasi dunia.

Kartini merupakan sosok pembaca kritis. Bahkan menurut penjelasan Legiman, juru kunci Pantai Pungkruk Mlonggo, Jepara, saat itu, Kartini tidak mau membaca semua Alquran dan hanya membaca satu surat yaitu Al-fatihah saja. Sebab, Kartini beranggapan bahwa ia hanya membaca kitab berbahasa Arab tanpa tahu maknanya. Pada suatu ketika, pahlawan kota ukir ini menghadiri acara pernikahan di Kabupaten Demak dan kebetulan ada Kiai Soleh Darat yang memberi ceramah tentang tafsir surat Al-fatihah. Sejak saat itulah, Kartini resmi berguru dengan Kiai Soleh Darat yang menjadikannya muslimah kritis (Haris, 2017).

Jejak dan “petilasan” Kartini, sebenarnya lebih kuat di Jepara dibandingkan di Rembang. Apalagi, banyak tempat-tempat khusus yang digunakan Kartini untuk merenung dan membaca serta menulis surat, salah satunya adalah Pantai Pungkruk Jepara yang jarang diketahui publik.

Tradisi literasi itulah yang menjadi spirit kemajuan Kartini dan kaum hawa. Sebab, meski zaman masih terbatas, namun penguasaan bahasa asing sangat tinggi. Berbeda dengan sekarang yang sangat minim meskipun semua fasilitas mudah diapat.

Kartini merupakan pahlawan literasi yang seharusnya dicontoh semua perempuan. Artinya, jangan sampai ada perempuan di era milenial seperti ini “buta literasi” dengan segala macam fasilitas teknologi. Sudah seharusnya, spirit literasi Kartini menjiwai perempuan Indonesia dalam rangka mendapatkan ilmu pengetahuan. Sebab, tanpa membaca, maka perempuan selamanya akan tertinggal.

Tanpa membaca, tidak mungkin Kartini memperjuangkan nilai-nilai ketuhanan, humanisme dan nasionalisme. Spirit mendapatkan pengetahuan inilah yang menjadi “mahkota” yang harus dijaga. Sebab, meskipun berpendidikan tinggi, namun spirit belajar rendah, maka akan susah mendongkrak kualitas sumber daya manusia.


Spirit berkartini tidak sekadar berkebaya, mengenakan batik, fashion show dan mengenakan baju adat. Namun, lebih pada spirit memberantas buta aksara. Jika Kartini bisa melek literasi ketika tidak ada ponsel dan internet, apakah Anda akan buta literasi disaat banjir teknologi seperti ini?

Formaci Press / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Coprights @ 2017 Blogger Templates